Minggu, 08 Juli 2012

Sabar, Ikhlas dan Tawakal

Tulisan ini akan bersama – sama untuk menguak rahasia dibalik kata – kata sabar, ikhlas dan tawakal, yang biasa kita dengar dari khotbah jum’at ataupun dari temen – temen kita sendiri. kata – kata tersebut mudah untuk di ucapkan tapi akan sangat sulit dilakukan bila kita tidak berlatih. 

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyimrahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)


Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
HAKEKAT IKHLAS
Seorang hamba tidak akan benar-benar beribadah kepada Allah (iyya kana’budu) kecuali dengan dua pokok:
  1. Mengikuti Rasul SAW
  2. Ikhlas hanya kepada Allah
Pembagian manusia ditinjau dari dua pokok ini terdiri dari empat bagian:
  1. Ahli Ikhlas kepada Allah dan mengikuti rasulullah. Mereka adalah ahlu iyyaka naa’budusecara sebenarnya.
  2. Mereka yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti
  3. Mereka yang ikhlas dalam amalnya, tetapi tidak mengikuti ajaran
  4. Mereka yang amalannya mengikuti ajaran tetapi tidak ikhlas kepada Allah. (Madarijus salikin hal : 1/9 5)
Dari Ibnu Abbas RA berkata, Dari Nabi SAW bersabda
“ Sesungguhnya Allah mencatat setiap kebaikan dan keburukan kemudian menerangkannya. Barang siapa yang punya niat untuk melaksanakan kebaikan,tetapi ia belum melakukannya, maka Allah akan mencatat baginya disisi-Nya satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat untuk melaksanakan kebaikan kemudian melaksanakannya,maka Allah akan mencatatnya sepuluh kebaikan disisi-Nya sampai tujuhratus kali dan sampai berlipat ganda. Barang siapa yang berniat untuk melaksanakan kejahatan kemudian ia tidak melaksanakannya, maka Allah mencatat sebagai kabaikan yang sempurna tetapi jia ia berniat untuk melakukan kejahatan kemudian ia melakukannya maka Allah mencatatnya satu kejahatan baginya” (HR Muttafaq Alaih)

Hadits ini dapat diambil pelajaran : ” Bahwasanya orang yang berkeinginan untuk melaksanakan kebaikan maka akan dicatat baginya suatu kebaikan meskipun belum dilaksanakan. Karena keinginan untuk melaksanakan kebaikan adalah sebab untuk dilaksanakannya. Dan Semua sebab yang menuju kepada kebaikan adalah kebaikan tersendiri. Yang kedua bahwasanya orang yang punya keinginan untuk melaksanakan kejelekan kemudiaan ia tobat karena Allah semata dan bukan untuk yang lainya, maka dicatat baginya suatu kebaikan. Karena taubat ia dari keinginan jelek adalah merupakan kebaikan.maka diberi pahala dalam menjauhinya dengan kebaikan. ( Nuzhatul muttaqqqin hal:1/28 )

Hakekat Tawakal 
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 : 1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT.

Sedangkan dari segi istilahnya, tawakal didefinisikan oleh beberapa ulama salaf, yang sesungguhnya memiliki muara yang sama. Diantara definisi mereka adalah:

1. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.
 Tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)

2. Ibnu Qoyim al-Jauzi
 “Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

Nah itu tadi hakekat dari sabar, ikhlas dan tawakal, kalau dilihat dari teorinya sangatlah mudah, tapi dalam kenyataanya sangatlah sulit, Untuk itu kita perlu untuk berlatih dulu sejak dini. semoga kita termasuk orang – orang yang bisa menjalankan itu semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar